Terilhami Ikan Pepetek Pakan Bebek
PRLM - Pada satu waktu di tahun 2006, Neneng
Umu Kulsum (43), tak sengaja melihat seorang peternak yang sedang
memberi pakan bebek di dekat rumahnya, di Kampung Sayuran RT 05/09, Desa
mekarmukti, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat.
Pakan itu terlihat menarik. Ukurannya sebesar ikan teri dengan tubuh tinggi dan pipih, serta memiliki sisik berwarna keperakan. Warga biasa menamainya ikan pepetek.
Alasan peternak memberi pakan pepetek, karena daerah sekitar Kampung Sayuran merupakan kawasan Waduk Saguling. Tak sulit mendapatkan pepetek di Saguling.
Tetapi yang paling utama yakni tujuan agar kuning telur bebek yang dihasilkan berwarna kemerahan. Selain nilai jual yang tinggi, kandungan gizinya pun banyak.
“Waktu itu saya berpikir, dengan kandungan gizi seperti protein, kalsium, dan masih banyak lagi, tidak ada salahnya jika dikonsumsi manusia,” tutur Neneng, pengusaha penganan Petex-Petex Oscar, saat ditemui di kediamannya, Sabtu (25/2/12).
Ia pun langsung mencoba mengolah ikan pepetek itu ke rumah. Konsepnya sederhana. Cukup dibalur tepung, maka pepetek dapat dikonsumsi sebagai penganan. Namun, pada praktiknya cukup banyak kendala yang harus ia hadapi.
Mulai dari menghilangkan bau anyir ikan, pengeringan maksimal dari minyak hasil penggorengan, hingga membuat duri menjadi renyah. Sampai pada akhirnya, ia mampu menyelesaikan itu semua. Bahkan, teknik khusus membuat duri pepetek agar terasa renyah ia rahasiakan.
“Saya harus berulang kali melakukan modifikasi dan coba-coba selama setahun, sebelum mendapatkan hasil yang sesuai harapan,” kata ibu tiga anak itu.
Hambatan lainnya, suami Neneng, Pringgo Setiawan (51), adalah salah satu mantan karyawan PT Dirgantara Indonesia (DI) yang terkena PHK massal beberapa waktu silam. Mau tidak mau, ia cukup kesulitan mencari dana perintis bisnis. "Kita modal awal hanya Rp 5 juta, sisanya kita selalu pinjam ke bank," ujarnya.
Meskipun berjalan tersendat, namun bisnis penganan ikan olahan itu terus mengalami peningkatan. Bahkan, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI memilih Petex-Petex Oscar sebagai salah satu dari tujuh UKM se-Indonesia, yang direkomendasikan masuk ke pasar modern.
Untuk memenuhi pesanan yang terus bertambah, ia pun membuka cabang produksi di Kecamatan Cililin. Selain itu, ia pun telah membuat kemasan baru dari bahan alumunium foil, untuk menjual ikan olahan yang dihargai Rp 5.000 ribu per kemasan 60 gram hingga Rp 10.000 per kemasan 140 gram.
Saat ini Petex-Petex Oscar sudah dipasok hingga ke luar kota, bahkan sudah ada pengiriman rutin ke Surabaya setiap minggu. Dalam satu bulan, Neneng bisa memproduksi satu kuintal pepetek. Oleh karena itu, ia mengajak ibu-ibu di sekitar rumahnya untuk membantu usaha tersebut.
"Saya ingin ibu-ibu di daerah ini saling bantu, karena mereka juga punya usaha," ujarnya, seraya menyebutkan kumpulan ibu-ibu itu bernama Oscar Istri Binangkit.
Upaya untuk memotivasi warga tidak hanya sampai di situ. Neneng yang juga seorang Guru Seni Budaya dan Kewirausahaan di SMA Darul Falah, Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat itu juga berupaya menginjeksikan semangat usaha pada siswanya. (Muhammad Fikry Mauludi/”PRLM”/A-88)***
Sumber :
Pakan itu terlihat menarik. Ukurannya sebesar ikan teri dengan tubuh tinggi dan pipih, serta memiliki sisik berwarna keperakan. Warga biasa menamainya ikan pepetek.
Alasan peternak memberi pakan pepetek, karena daerah sekitar Kampung Sayuran merupakan kawasan Waduk Saguling. Tak sulit mendapatkan pepetek di Saguling.
Tetapi yang paling utama yakni tujuan agar kuning telur bebek yang dihasilkan berwarna kemerahan. Selain nilai jual yang tinggi, kandungan gizinya pun banyak.
“Waktu itu saya berpikir, dengan kandungan gizi seperti protein, kalsium, dan masih banyak lagi, tidak ada salahnya jika dikonsumsi manusia,” tutur Neneng, pengusaha penganan Petex-Petex Oscar, saat ditemui di kediamannya, Sabtu (25/2/12).
Ia pun langsung mencoba mengolah ikan pepetek itu ke rumah. Konsepnya sederhana. Cukup dibalur tepung, maka pepetek dapat dikonsumsi sebagai penganan. Namun, pada praktiknya cukup banyak kendala yang harus ia hadapi.
Mulai dari menghilangkan bau anyir ikan, pengeringan maksimal dari minyak hasil penggorengan, hingga membuat duri menjadi renyah. Sampai pada akhirnya, ia mampu menyelesaikan itu semua. Bahkan, teknik khusus membuat duri pepetek agar terasa renyah ia rahasiakan.
“Saya harus berulang kali melakukan modifikasi dan coba-coba selama setahun, sebelum mendapatkan hasil yang sesuai harapan,” kata ibu tiga anak itu.
Hambatan lainnya, suami Neneng, Pringgo Setiawan (51), adalah salah satu mantan karyawan PT Dirgantara Indonesia (DI) yang terkena PHK massal beberapa waktu silam. Mau tidak mau, ia cukup kesulitan mencari dana perintis bisnis. "Kita modal awal hanya Rp 5 juta, sisanya kita selalu pinjam ke bank," ujarnya.
Meskipun berjalan tersendat, namun bisnis penganan ikan olahan itu terus mengalami peningkatan. Bahkan, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI memilih Petex-Petex Oscar sebagai salah satu dari tujuh UKM se-Indonesia, yang direkomendasikan masuk ke pasar modern.
Untuk memenuhi pesanan yang terus bertambah, ia pun membuka cabang produksi di Kecamatan Cililin. Selain itu, ia pun telah membuat kemasan baru dari bahan alumunium foil, untuk menjual ikan olahan yang dihargai Rp 5.000 ribu per kemasan 60 gram hingga Rp 10.000 per kemasan 140 gram.
Saat ini Petex-Petex Oscar sudah dipasok hingga ke luar kota, bahkan sudah ada pengiriman rutin ke Surabaya setiap minggu. Dalam satu bulan, Neneng bisa memproduksi satu kuintal pepetek. Oleh karena itu, ia mengajak ibu-ibu di sekitar rumahnya untuk membantu usaha tersebut.
"Saya ingin ibu-ibu di daerah ini saling bantu, karena mereka juga punya usaha," ujarnya, seraya menyebutkan kumpulan ibu-ibu itu bernama Oscar Istri Binangkit.
Upaya untuk memotivasi warga tidak hanya sampai di situ. Neneng yang juga seorang Guru Seni Budaya dan Kewirausahaan di SMA Darul Falah, Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat itu juga berupaya menginjeksikan semangat usaha pada siswanya. (Muhammad Fikry Mauludi/”PRLM”/A-88)***
Sumber :
Senin, 16 Apr, 2012 01:27:17 PM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar